Sunday, 17 December 2017

Asbabun Nuzul Surat Al Kahfi (Sebab Turun)

Asbabun nuzul surat al kahfi - Didalam artikel ini kami suguhkan kepada anda sebab turunnya surat al kahfi, tetapi hanya beberapa saja yang kami dapatkan. Karena mungkin memang ada beberapa ayat saja yang terdapat asbabun nuzulnya.

Asbabun Nuzul Surat Al Kahfi

Asbabun Nuzul Al Kahfi Ayat 6
Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ibnu Ishaq dari seorang Syekh penduduk Mesir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa kaum Quraisy mengutus an-Nadhr ibnul-Harits dan Uqbah bin Abi Mu'ith untuk menemui para pendeta Yahudi di Madinah dengan pesan, "Tanyai mereka tentang diri Muhammad! Berikan gambaran tentang dirinya! Dan beri tahu mereka tentang perkataannya, sebab mereka adalah pemeluk Al-Kitab, dan mereka memiliki pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita miliki.”
Kedua utusan ini pun berangkat. Setibanya di Madinah, mereka bertanya kepada para pendeta Yahudi tentang Rasulullah Mereka gambarkan keadaan serta sebagian ucapan beliau. Maka para pendeta itu berkata, ”Tanyai dia tentang tiga hal. Kalau dia memberi jawaban semuanya, berarti dia memang nabi yang diutus. Kalau tidak, berarti dia hanya mengada-ada. Tanyai dia tentang sekelompok pemuda di zaman lampau yang amat menakjubkan kisahnya. Tanyai dia tentang seorang pria pengembara, yang telah mencapai ujung timur dan barat dunia. Dan tanyai dia tentang ruh!"
Setelah mereka kembali dan bertemu dengan kaum Quraisy, mereka berkata, "Kami datang membawa keputusan antara kita dan Muhammad.” Lalu mereka mendatangi Rasulullah dan menanyakan ketiga hal itu. Beliau menjawab, "Aku akan beri tahu kalian jawabannya besok," tanpa mengatakan insya Allah.
Orang-orang itu pun pergi. Akan tetapi sampai lima belas hari lamanya Allah tidak menurunkan wahyu kepada Rasulullah mengenai hal yang ditanyakan itu, Jibril pun tidak menemui beliau sehingga penduduk Mekah gempar. . .. Tidak turunnya wahyu itu membuat sadih hati Rasulullah, dan perbincangan penduduk Mekah pun memberatkan hati beliau. Hingga akhirnya Jibril pun datang diutus Allah menurunkan surah Ashabul Kahfi, yang di dalamnya Dia menegur kesedihan beliau atas penduduk Mekah, juga berisi jawaban mengenai pertanyaan mereka tentang para pemuda dan lelaki pengembara serta firman Allah, "Dan mereka bertanya tentang ruh."
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, an-Nadhr ibnul-Harits, Umayyah bin Khalaf, al-'Ash bin Wa’il, al-Aswad ibnulMuththalib, Abul Bakhtari, dan sejumlah orang Quraisy lain berkumpul. Ketika itu Rasulullah sudah merasa amat sedih menyaksikan permusuhan kaumnya kepada beliau dan pengingkaran mereka terhadap nasihat yang beliau bawa. Maka Allah menurunkan ayat, Maka barangkali engkau (M uhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling…"

Asbabun Nuzul Al Kahfi Ayat 23-25
lbnu Mardawaih juga meriwayatkan dan Ibnu Abbas bahwa ayat, “Dan mereka tinggal dalam gua,” turun, lalu seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, tahun atau bulan?" Maka Allah menurunkan ayat, ” tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” Ibnu Jarir meriwayatkannya dari adh-Dhahhak. Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. mengeluarkan sebuah sumpah, kemudian setelah berlalu empat puluh han, Allah menurunkan firman-Nya, "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan itu besok pagi ' kecuali (dengan mengatakan), 'Insya Allah."'

Asbabun Nuzul Al Kahfi Ayat 110
ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abid Dunya dalam Kitaabul Ikhlaash meriwayatkan dari Thawus bahwa seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, saya seringkali ingin bertemu muka dengan Allah dan saya berharap Dia melihat tempat saya berada." Rasulullah tidak menyahut hingga turunlah ayat ini, ”Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." Hadits ini mursal. Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak riwayat yang maushul dari Thawus dari Ibnu Abbas dan dinyatakannya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid bahwa dahulu ada seorang muslim yang berperang dan dia ingin sepak terjangnya dilihat. Maka Allah menurunkan ayat, “Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” Abu Nu'aim dan Ibnu 'Asakir dalam Taarlkh-nya meriwayatkan dari jalur as-Suddi ash-Shaghir dari al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas bahwa Jundub bin Zuhair, apabila shalat, puasa, atau bersedekah lalu namanya dipuji-puji, maka hatinya menjadi senang; dan dia pun menambah amal perbuatannya karena orang-orang memujinya Maka turunlah ayat mi mengenai hal itu, ”Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."