Tuesday, 19 December 2017

Tafsir Surat Al Kahfi Ibnu Katsir (Ayat 17-18)

Tafsir surat al kahfi ibnu katsir ayat 17-18 dapat anda baca dibawah ini, semoga ilmu yang didapat menjadi amal dan bermanfaat bagi kehidupan kita. Aamiin
Note: Baca juga surat al kahfi latin dan arab.

Tafsir Surat Al Kahfi Ibnu Katsir Ayat 17 Sampai 18

Al-Kahfi, ayat 17

{وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا (17) }
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan; dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedangkan mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi pe­tunjuk kepadanya.
Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa pintu gua itu menghadap ke arah utara, karena Allah Swt. menceritakan bahwa saat sinar matahari pagi masuk ke dalamnya condong ke arah kanan. Hal ini disebutkan oleh firman-Nya:
{ذَاتَ الْيَمِينِ}
ke sebelah kanan. (Al-Kahfi: 17)
Yakni bayangan condong ke arah kanan gua. Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Tazawaru," yang artinya condong. Demikian itu karena setiap kali mata­hari bertambah tinggi, maka sinarnya yang masuk ke dalam gua itu makin menyurut; sehingga manakala matahari sampai di pertengahan langit, maka tidak ada seberkas sinar pun yang langsung menyinari gua itu. Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:
{وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ}
dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke arah sebe­lah kiri. (Al-Kahfi: 17)
Maksudnya, sinar matahari masuk ke dalam gua mereka dari arah kiri pintunya, sedangkan pintu gua itu berada di sebelah timurnya (yakni arah yang berlawanan). Pengertian ini menunjukkan bahwa apa yang kami katakan adalah benar, bahwa pintu gua itu menghadap ke arah utara. Hal ini dapat dimengerti oleh orang yang merenungkannya secara menda­lam serta berpengetahuan tentang arsitek dan falak.
Dengan kata lain, seandainya pintu gua itu menghadap ke arah timur, tentulah sinar matahari tidak akan masuk ke dalamnya di saat matahari tenggelam. Seandainya pintu gua itu menghadap ke arah kiblat, tentulah sinar matahari tidak akan dapat memasukinya, baik di saat terbit maupun di saat tenggelam; bayangan pintu gua pun tidak akan condong, baik ke arah kanan maupun ke arah kiri. Dan seandainya pintu gua itu menghadap ke arah barat, tentu sinar matahari di saat terbitnya tidak dapat masuk ke dalam gua, melainkan baru memasukinya setelah matahari tergelincir dari tengah langit hingga terbenam. Dengan demikian, berarti pintu gua itu jelas menghadap ke arah utara, seperti yang telah kami sebutkan di atas.
Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Taqriduhum," artinya menjauhi mereka. Allah Swt. telah memberitahukan kepada kita hal tersebut dan Dia bermaksud agar kita memahami dan merenungkannya, sekalipun Dia tidak menyebutkan kepada kita tentang tempat gua itu berada, yakni di negeri mana adanya. Sebab tidak ada faedahnya bagi kita untuk mengetahuinya dan tidak ada kaitannya dengan tujuan syariat kita.
Gua tempat para pemuda itu mengungsi kini telah diketemukan oleh para arkeolog Arab. Ternyata gua itu berada di negeri Yordania, dekat dengan ibu kota negeri itu, (pent.).
Sebagian ulama tafsir ada yang memaksakan diri, lalu mereka me­ngemukakan pendapat-pendapatnya. Dalam riwayat yang terdahulu dari Ibnu Abbas telah disebutkan bahwa gua tersebut berada di dekat Ailah. Ibnu Ishaq mengatakan, gua tersebut berada di dekat Nainawi. Menurut pendapat yang lainnya, gua tersebut berada di negeri Romawi, dan penda­pat lainnya lagi mengatakan bahwa gua itu berada di negeri Balkan.
Memang di masa Ibnu Kasir menulis kitab tafsirnya ini gua tersebut masih misteri, tetapi Alhamdulillah sekarang tempat mereka telah dikete­mukan berkat usaha pencarian yang gigih dari tim arkeolog Arab negeri Yordania. Sekarang gua itu ternyata ditemukan berada di negeri Yordania, bahkan tidak jauh dari kota Amman, ibu kota Yordania, (pent.).
Selanjutnya Ibnu Kasir mengatakan, seandainya mengetahui gua itu mengandung maslahat agama bagi kita, tentulah Allah dan Rasul-Nya memberikan petunjuk kepada kita tempat gua itu berada. Karena Rasulullah Saw. sendiri telah bersabda:
"مَا تَرَكْتُ شَيْئًا يُقَرِّبُكُمْ إِلَى [الْجَنَّةِ] وَيُبَاعِدُكُمْ مِنَ النَّارِ، إِلَّا وَقَدْ أَعْلَمْتُكُمْ بِهِ"
Aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang mendekatkan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari neraka, melainkan aku beritahukan kalian mengenainya.
Allah Swt. hanya memberitahukan kepada kita tentang ciri khas gua itu, tidak menyebutkan tempat keberadaannya.
Allah Swt. berfirman:
{وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ}
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka. (Al-Kahfi: 17)
Menurut Malik, dari Ibnu Zaid ibnu Aslam, makna tazawaru artinya condong.
{ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ}
ke sebelah kanan; dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedangkan mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. (Al-Kahfi: 17)
Yakni mereka berada di bagian dalam gua itu di tempat yang luas, terhindar dari sengatan matahari; sebab seandainya sinar matahari mengenai tubuh mereka, tentulah panasnya yang menyengat, membakar tubuh dan pakaian mereka, menurut Ibnu Abbas.
{ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ}
Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah. (Al-Kahfi: 17)
Allah telah menunjukkan gua itu kepada mereka yang membuat mereka tetap hidup, sedangkan matahari dan angin masuk ke dalam gua itu agar tubuh mereka tetap utuh. Karena itulah Allah Swt. berfirman:
{ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ}
Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah. (Al-Kahfi: 17)
Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:
{مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا}
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. (Al-Kahfi: 17), hingga akhir ayat.
Yakni Allah-lah yang telah memberi petunjuk para pemuda itu ke jalan yang lurus di antara kaumnya. Karena sesungguhnya orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk sesungguhnya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Al-Kahfi, ayat 18

{وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا (18) }
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang­kan anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah(hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
Sebagian ahli 'ilmu mengatakan bahwa setelah Allah menimpakan tidur pada telinga mereka, mata mereka tidak terkatup, agar matanya tidak rusak. Karena apabila mata dalam keadaan terbuka, berarti selalu menda­pat hawa (udara), dan itu lebih merawatnya. Karena itulah dalam firman-Nya disebutkan: wasid artinya pintu gua. Menurut pendapat yang lain, makna al-wasid ialah tanah. Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengartikan halaman dan pintu gua. Termasuk ke dalam pengertian ini finnan Allah Swt. yang mengatakan:
{إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ}
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (Al-Humazah: 8)
Yakni tertutup mengunci mereka di dalamnya. Dikatakan pula asid semak­na dengan wasid. Anjing mereka mendekam di depan pintu seperti ke­biasaan anjing lainnya.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa anjing menjaga pintu gua mereka, dan hal itu sudah menjadi watak dan tabiat anjing. Anjing mendekam di depan pintu gua mereka seakan-akan sedang menja­ga mereka. Tempat mendekam anjing itu berada di luar gua, karena ma­laikat tidak mau memasuki suatu rumah yang di dalamnya terdapat anjing, seperti yang telah disebutkan dalam hadis sahih. Malaikat tidak mau pu­la memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar (patung), orang yang berjinabah, juga orang kafir, seperti yang telah disebutkan di dalam hadis yang berpredikat hasan.
Berkah mereka mencakup anjing mereka sehingga anjing itu pun terkena tidur seperti yang menimpa diri mereka, sedangkan anjing itu berada dalam posisinya. Demikianlah faedah dan manfaat berteman de­ngan orang-orang saleh, sehingga anjing ini menjadi terkenal dan disebut-sebut serta menjadi buah tutur.
Menurut suatu pendapat anjing itu adalah anjing berburu milik salah seorang pemuda itu.
Menurut pendapat yang lain, anjing itu adalah milik juru masak raja, lalu juru masak itu bergabung dengan mereka dan anjingnya mengikutinya. Juru masak tersebut seagama dan seiman dengan para pemuda itu. Akan tetapi, pendapat yang mirip dengan kebenaran ialah yang pertama tadi, yaitu milik salah seorang pemuda itu.
Al-Hafiz ibnu Asakir telah meriwayatkan di dalam biografi Hammam ibnul Wal id Ad-Dimasyqi, bahwa telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnu Umar Al-Gassani, telah menceritakan kepada kami Abbad Al-Minqari; ia pernah mendengar Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa nama domba yang disembelih Nabi Ibrahin a.s. ialah Jarir, nama burung hudhud Nabi Sulaiman a.s. ialah 'Unfuz, nama anjing para pemuda peng­huni gua adalah Qitmir, dan nama anak lembu yang disembah kaum Ba­ni Israil ialah Bahmut. Nabi Adam a.s. diturunkan (dari surga) ke India, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jeddah; iblis diturunkan di Desbisan, sedangkan ular (yang menggoda Nabi Adam dan Siti Hawa) diturunkan di Asfahan.
Dalam riwayat yang terdahulu dari Syu'aib Al-Jibai telah disebutkan bahwa nama anjing itu adalah Hamran.
Para ulama berbeda pendapat tentang warna bulu anjing itu. Pendapat mereka berbeda-beda, tetapi tidak ada faedahnya dan tidak penting, bah­kan termasuk hal yang dilarang karena semuanya hanya berdasarkan dugaan belaka, tanpa sandaran:
Firman Allah Swt.:
{لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا}
Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan ber­paling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. (Al-Kahfi: 18)
Yakni Allah Swt. menyelimuti diri mereka dengan wibawa, sehingga tia­da seorang pun yang melihat mereka melainkan hatinya akan merasa takut. Allah telah melindungi mereka dengan rasa takut dan wibawa yang hebat, agar tiada seorang pun berani mendekati mereka dan tiada suatu tangan pun yang dapat menyentuh mereka, hingga tiba masa terba­ngunnya mereka dari tidurnya, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Swt., karena dalam peristiwa itu terkandung hikmah dan bukti yang jelas (tentang kekuasaan Allah) dan rahmat yang luas.

Terimakasih telah membaca artikel dan membaca al quran di situs www.suratkahfi.com, semoga menjadi amal baik bagi anda dan juga bagi admin, Aamiin.